Hanya ada pepohonan serta batu yang gue dan eri duduki, cuaca pada saat itu agak mendung. "Terima Kasih ya kamu tuh sudah baik sama aku, tapi maaf sepertinya kita putus dulu hubungan. Maaf loh bukan bermaksud untuk memutuskan tali silahturahmi". Eri membungkukan badannya, terlihat dia mengeluarkan air mata. "Huss.. udah kamu jangan sedih, kalaupun kita jodoh pasti kelak Allah akan mempertemukan kita" Gue sambil mengusap air mata dengan tisu, dan eri berusaha tenang.

"Aku salah aku bodoh, tolong maafin aku ra. gak akan aku mengulangi lagi" Eri makin nangis, ya disitu gue gak mempersalahkan dia. Tapi gue mengkoreksi diri sendiri, dan gue sendiri membebaskan eri. "udah jangan menyalahkan kamu, aku juga salah kok. Makanya kita agak menjauh, agar memperbaiki sifat kita masing2. Kan yang udah aku bilang, kalaupun jodoh kita akan bersama".

Setelah perbincangan itu gue mengantarkan eri pulang kerumahnya, diperjalanan eri masih saja menangis. Mungkin dia menyesal dengan perbuatannya, tapi mau gimana lagi. gue sendiri udah komitmen silakan berhubungan lebih sama cowo lain, dengan catatan gue udah gak mau berhubungan sama eri. gue sayang sama eri tapi kalo eri lebih memilih dan bahagia sama cowo lain gue merelakannya.

Akhirnya kami tiba, tapi gue hanya mengantarkan eri didepan gang jalan rumahnya. "Semoga kamu seneng, bahagia, jangan macem2 loh yah". Tanpa mengucapkan apa2 eri pergi, dan tetap masih saja menangis. Hufft.. dasar cewe ya (-_-) . . .